oleh

Gelar Aksi Damai, Jurnalis Palembang Desak Usut Tuntas Kekerasan Wartawan Tempo

-Palembang-47 views

– Sampaikan 3 Petisi

GoSumsel – Aksi damai digelar insan pers di Kota Palembang, di bundaran Air Mancur Palembang, Kamis (1/4). Ratusan jurnalis di Bumi Sriwijaya, menuntut keadilan, kebebasan pers dan mendesak agar mengusut kasus yang menimpa Nurhadi Jurnalis Tempo di Surabaya, diusut tuntas.

Dalam aksi damainya, tidak hanya poster para jurnalis dari berbagai media ini mengenakan baju hitam, sebagai tanda mereka berkabung, sambil melakukan pertunjukan teaterikal.

Selain itu, aksi teaterikal dan pertunjukan seni serta penyerahan petisi ke Polda Sumsel yang berisikan tolak kekerasan terhadap jurnalis serta kekompakan mereka mengenakan pakaian serba hitam.

Menurut Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palembang Prawira Maulana, Kekerasan yang menimpa wartawan Tempo di Surabaya, merupakan tindak pidana yang melanggar setidaknya dua aturan yakni pasal 170 KUHP mengenai penggunaan kekerasan secara bersama-sama terhadap orang atau barang, dan pasal 18 ayat (1) UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 tentang tindakan yang menghambat atau menghalangi kegiatan jurnalistik.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat, kasus kekerasan terhadap wartawan pada 2020 meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. LBH Pers mencatat, pada 2020 terjadi 117 kasus kekerasan terhadap wartawan dan media, meningkat 32 persen dibandingkan pada 2019 (79 kasus).

“Dari 117 kasus tersebut, sebanyak 99 kasus terjadi pada wartawan, 12 kasus pada pers mahasiswa, dan 6 kasus pada media, terutama media siber. Sementara AJI Indonesia mencatat, pada 2020 terjadi 84 kasus kekerasan terhadap wartawan atau bertambah 31 kasus dibandingkan pada 2019 (53 kasus). Pelaku kekerasan paling banyak adalah aparat keamanan,”jelasnya.

Adapun tuntutan dalam aksi ini :

1. Menuntut Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta Polda Jawa Timur mengusut tuntas kasus kekerasan yang menimpa jurnalis Tempo, Nurhadi sesuai hukum yang berlaku. Keseriusan Polda Jatim dalam menindak para pelaku kekerasan menjadi bukti profesionalisme Kepolisian ke depan.

2. Meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan jajarannya untuk memberikan perlindungan terhadap jurnalis yang melakukan kerja-kerja jurnalistik.

3. Mengingatkan kepada aparat penegak hukum khususnya di Sumsel dan masyarakat bahwa kerja-kerja jurnalistik dilindungi oleh Undang-undang Pers.

Sementara itu Direktorat Intel Polda Sumsel Ratno Kuncoro datang langsung menerima dan menandatangani petisi.

“Kami semua prihatin terhadap kekerasan yang terjadi dengan wartawan tempo Nurhadi Namun kita sama-sama bekerja pers sebagai pilar demokrasi ke-4 yang juga penting untuk memberikan informasi mengenai dinamika masyarakat,”ucapnya.

Tuntutan dan respon aspirasi para jurnalis diterima, dan menegaskan aksi damai kawan – kawan jurnalis, merupakan bentuk kebebasan yang dijamin undang-undang pers yaitu kebebasan menyampaikan pendapat, maka silakan sampaikanlah aspirasi dengan baik.

“Kasus yang menimpa Nurhadi pihak kepolisian daerah dan Nasional telah melakukan penelitian dan koordinasi langsung bersama Polda Jatim untuk melakukan pengusutan kasusnya,” paparnya

Menurutnya, Kabareskrim juga sudah bertindak tegas untuk menyelidiki secara tuntas hal ini juga dilaporkan dengan Komnas HAM

” Harapannya rekan-rekan tetap melakukan aktivitas jurnalis untuk mematuhi kode etik pers termasuk menghargai azas praduga tak bersalah, jika menemui perlakuan perlakuan tidak menyenangkan silakan lakukan pengaduan,”singkatnya.(Ocha)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed