GoSumsel – 17 Juni, merupakan tanggal yang sebagaimana diperingati sebagai hari jadi Kota Palembang. Dimana,
Palembang termasuk kota tertua di Indonesia, yang saat ini telah berusia 1.338 tahun.
Namun sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel) Syafruddin Yusuf menilai tanggal 17 Juni sebagai hari jadi kota Palembang dinilai kurang tepat.
“Menurut saya, bagusnya di luruskan sesuai dengan Prasasti Kedukan Bukit Prasasti , di Prasasti Kedukan Bukit tertanggal 16 Juni 682 M, atas Prasasti Kedukan Bukit itulah harusnya ditentukan tanggal hari jadi kota Palembang bukan tanggal 17 Juni, “ kata Syafruddin Yusuf, Kamis (17/6).
Syafruddin mengaku dirinya masih memegang risalah rapat penentuan tanggal hari jadi kota Palembang tersebut.
Sebelumnya menurutnya dibentuk tim penentuan hari jadi kota Palembang di tahun 1971 dimana anggotanya Rusdi Kosim, Makmun Abdullah , Raden M Akib dan perwakilan dari Kodam II Sriwijaya.
” Waktu diskusi tentang hari jadi kota Palembang itu tim ini menyebutkan tanggal 16 Juni itu berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, tapi untuk menentukan hari jadi kota Palembang dipersilahkan Walikota Palembang menentukan tanggalnya, walikota waktu itu pak Tjek Yan, jadi atas keputusan Walikota Tjek Yan ditetapkan 17 Juni sebagai hari jadi kota Palembang,” kata Dosen FKIP Jurusan Sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) ini.
Menurut Syafruddin, alasan Walikota Palembang Tjek Yan waktu itu menentukan tanggal hari jadi kota Palembang 17 Juni untuk mudah mengingat.
“Alasannya sederhana, untuk mudah ingat karena katanya 17 itu angka sakral, 17 rakaat, 17 Agustus, “ katanya.
Sehingga 17 Juni sampai sekarang menurutnya ditetapkan sebagai tanggal hari jadi kota Palembang.
“Mungkin waktu dulu itu katakanlah kesalahan , waktu dulu tim menyerahkan langsung kepada walikota untuk menentukan tanggal itu. Kenapa tidak langsung menyerahkan hasil keputusan tanggal 16 Juni dan Walikota tinggal menetapkan,” katanya.
Dia juga mempertanyakan penanggalan dari prasasti Kedukan Bukit , menurutnya apakah tanggal 5 asada memang tanggal 16 Juni sebab jika bulan asada jatuhnya bulan mei sampai juni.
“Tanggal 5 Asada apakah hari kelima dari bulan asada atau jatuh hari kelima bulan asada berarti sekitar bulan mei , itu yang aku agak ragu karena aku sudah baca beberapa sumber tulisan dari peneliti lama tidak ada menyebutkan 5 asada sama dengan tanggal 16 Juni , itu belum aku ketemukan tetapi anggaplah kalau dianggap kalau itu bisa di putuskan 16 Juni sudah berarti dikembalikan ke berdasarkan prasasti kedukann bukit tanggal 16 Juni,” katanya.
Dia mengusulkan perlu ada kajian ulang mengenai penentuan tanggal hari jadi kota Palembang ini dan hasil kajian ulang tersebut baru disampaikan ke DPRD Palembang dan DPRD Palembang menyampaikan ke walikota Palembang.
“ DPRD Palembang punya dasar karena berdasarkan hasil kajian , karena itu merubah tanggal,” katanya.
Atau menurutnya DPRD Palembang bisa mengusulkan kepada Walikota Palembang untuk membentuk tim kajian ulang penentuan tanggal hari jadi kota Palembang itu.
Tim kajian ulang penentian tanggal hari jadi kota Palembang menurutnya harus diisi oleh orang-orang sejarawan, arkeologi terutama yang bisa membaca tulisan Prasasti Kedukan Bukit tersebut.
“Tulisan tentang terjemahan dari prasasti Kedukan Bukit itu sudah banyak dan sudah diakui secara umum baik tulisan Buchori, tulisan Codes, tinggal penanggalan saja , kalau memang mau diluruskan itu harus ada ada kajian ulang tentang tanggal hari jadi kota Palembang, “ katanya.
Ketika ditanya kenapa selama ini pihak Pemkot Palembang dan masyarakat menganggap tanggal 17 Juni hari jadi kota Palembang kesalahan yang dibuat di masa lalu dan membiarkan saja dimana seharusnya tanggal 16 Juni berdasarkan prasasti Kedukan Bukit seharusnya tanggal hari jadi kota Palembang, menurut Syafruddin karena pijakan penanggalan hari jadi kota Palembang sudah berdasarkan keputusan Walikota Palembang.
“Yang tahu soal itu kan orang-orang sejarah , kalau pejabat itu tidak tahu tanggal berapa 16 Juni atau 17 Juni, jangan-jangan proses penentuan tanggal hari jadi kota Palembang itu dia tidak tahu juga, apalagi pejabat sekarang kan karena dia tidak terlibat , jadi kenapa dia katakanlah terbuai menerima itu karena memang mereka menerima saja apa yang sudah dihasilkan oleh tim pada waktu itu,” katanya.(gS/dudy)













