oleh

Dicecar Penyertaan Modal Augie Bunyamin Sebut Disetujui DPRD

-Kriminal-392 views

GoSumsel – Eks Dirut PD Hotel Swarna Dwipa Augie Yahya Bunyamin dan Direktur PT Palcon Indonesia yaitu Ahmad Tohir, hari ini kembali menjalani sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan kedua terdakwa yang di gelar di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang klas 1A khusus, Selasa (24/1).

Keduanya dihadirkan langsung oleh JPU dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh Sahlan Efendi SH MH, untuk diperiksa terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi pada proyek pengadaan konstruksi pekerjaan rancang bangun pembangunan Hotel Swarna Dwipa Sport Hotel Injuries and Thrapi pada perusahaan daerah hotel Swarna Dwipa tahun 2017.

Augie Bunyamin dicecar berbagai pertanyaan oleh JPU, Hakim serta penasehat hukumnya terkait pembangunan hotel tersebut yang bersumber dari anggaran operasional hotel Swarna Dwipa dan anggaran penyertaan modal dari BPKAD Sumsel sebesar Rp 20 milyar.

Augie menjelaskan, pada saat itu bahwa Hotel Swarna Dwipa berjalan dengan baik. Hal itu dikatakannya saat menjawab pertanyaan dari tim penasehat hukumnya.

Mendengar Jawaban itu, hakim langsung mempertanyakan soal rancang bangun hotel Swarna Dwipa yang terhenti pembangunannya.

“Saudara terdakwa, tadi menjawab pertanyaan penasehat hukum bahwa hotel Swarna Dwipa berjalan dengan baik. Pertanyaan saya, apakah pembangunannya berjalan dengan baik atau tidak,”ujar hakim.

Kemudian saat kembali dicecar hakim soal pembangunan menggunakan anggaran operasional hotel, Augie mengaku sudah mendapatkan persetujuan dari Dewan pengawas karena akan ada penyertaan modal dari Pemprov Sumsel.

“Saya sudah berkoordinasi dengan pengawas bahwa untuk uang muka pembangunan tidak ada masalahnya menggunakan dana operasional perusahaan untuk menalangi pembangunan. Untuk penyertaan modal sudah disetujui oleh DPRD sebesar Rp 20 milyar, ” jawab Augie.

Mendengar Jawaban tersebut, kemudian JPU menegaskan bahwa penjelasan itu adalah asumsi terdakwa.

“Saudara bilang uang muka dari operasional hotel Swarna Dwipa, untuk menalangi pembangunan. Kalau memang disetujui oleh DPRD sebesar Rp 100 M, tetapi faktanya penyertaan modal itu hanya cair sebesar Rp 20 milyar untuk pembangunan yang saudara lakukan, berarti itu asumsi saudara, karena ini faktanya ketidakyakinan soal penganggaran, “tegas JPU.

Kemudian Augie menjelaskan terkait peraturan Direktur PD Hotel Swarna Dwipa tentang pengadaan barang dan jasa yang menyusun pihak dinas terkait.

“Peraturan Direktur Hotel Swarna Dwipa tentang pengadaan barang dan jasa ditandatangani oleh saya. Namun tim penyusun dari pihak Dinas terkait,” katanya.

Namun demikian Augie mengakui pembangunan yang tidak sesuai dengan kegiatan tidak dilaporkan kepada dewan pengawas.

“Apakah tidak seusai rencana kegiatan pembangunan yang tidak berjalan saudara memberikan peringatan kepada kontraktor?, “tanya hakim lagi.

” Ada yang mulia, kami kirimkan surat ke PT Palcon Indonesia, namun untuk dewan pengawas tidak dilaporkan. Sampai sekarang tidak ada pemberitahuan pemutusan kerja terkait pembangunan yang tidak berjalan jalan lagi,”ujar Augie.

Seusai sidang tim JPU Kejati Sumsel yaitu Riduan mengatakan, pihaknya menganggap keterangan terdakwa Augie Yahya Bunyamin hanya asumsi karena tidak sesuai fakta yang terungkap di persidangan.

“Terdakwa tadi menjelaskan bahwa anggaran operasional pembangunan hotel Swarna Dwipa sudah dikoordinasikan dengan dewan pengawas dan penyertaan modal untuk pembangunan tersebut sudah disetujui oleh DPRD sebesar Rp 100 milyar. Akan tetapi faktanya penyertaan modal itu cair sebesar Rp 20 milyar, berarti jelas keterangan tersebut hanya asumsi terdakwa saja, “ujar Riduan.(yns)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *