GoSumsel – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Palembang, Sumatera Selatan, terus mendorong peningkatan kapasitas warga binaan melalui program pembinaan yang berorientasi pada keterampilan dan pengembangan diri.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan menulis yang dirancang untuk mengasah kreativitas sekaligus membuka ruang bagi warga binaan dalam menyampaikan gagasan dan pengalaman secara positif.
Kepala Lapas Perempuan Palembang, Desi Andriyani, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan agar warga binaan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan selama menjalani masa pidana maupun setelah kembali ke lingkungan masyarakat, Selasa (6/10).
Menurutnya, menulis tidak hanya menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan literasi, tetapi juga dapat menjadi media bagi warga binaan untuk menuangkan pemikiran, pengalaman, dan ide secara konstruktif.
“Pelatihan ini kami harapkan dapat menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan potensi dan kreativitas mereka,” ujarnya di Palembang, Selasa.
Tidak hanya kemampuan menulis, program pembinaan tersebut juga dipadukan dengan pelatihan public speaking. Kegiatan ini menghadirkan Firza Rizki sebagai pemateri untuk memberikan pemahaman mengenai teknik berbicara di depan umum serta membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.
Melalui pelatihan tersebut, warga binaan mendapat kesempatan untuk berlatih menyampaikan gagasan secara terstruktur, baik melalui tulisan maupun komunikasi secara langsung.
Keterampilan komunikasi dinilai menjadi salah satu bekal penting bagi warga binaan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat. Kemampuan tersebut dapat membantu mereka berinteraksi, membangun relasi, serta mengembangkan berbagai potensi secara lebih mandiri.
Pihak Lapas Perempuan Palembang berharap kegiatan pembinaan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain meningkatkan keterampilan, program tersebut diharapkan turut mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana.
Dengan kemampuan literasi, komunikasi, dan kepercayaan diri yang terus diasah, warga binaan diharapkan mampu melihat lebih banyak peluang ketika kembali ke masyarakat. Keterampilan menulis, misalnya, dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif, termasuk menjadi penulis lepas maupun terlibat dalam kegiatan komunitas.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Lapas Perempuan Palembang untuk memberikan pembinaan yang tidak hanya berfokus pada masa menjalani pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar lebih siap menjalani kehidupan secara mandiri setelah bebas.(yns)













