GoSumsel – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Selatan, Brigjen Pol Tri Julianto Djatiutomo, menegaskan komitmennya untuk memerangi peredaran dan penggunaan narkoba yang masih merajalela di wilayahnya.
Meskipun menurutnya, ada penurunan jumlah pecandu narkoba secara nasional dari tahun 2019 hingga 2023, tantangan di Sumatera Selatan tetap signifikan dengan 320 ribu kasus dilaporkan dalam satu tahun terakhir. Data ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penindakan masih memerlukan perhatian ekstra.
“Salah satu langkah nyata yang dilakukan BNNP Sumatera Selatan adalah razia di tempat hiburan. Operasi bersama dengan Polda berhasil mengungkap 66 orang yang terlibat dalam penggunaan narkoba di sebuah kafe. Tindakan ini merupakan bagian dari strategi untuk menangkap para pengguna narkoba secara dini sebelum dampaknya semakin meluas di masyarakat,”ungkapnya di Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional, Jum’at (26/6)
Tri juga telah berdiskusi dengan Penjabat (Pj) Walikota untuk mengimplementasikan program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Hasilnya, dalam dua bulan terakhir, BNNP Sumatera Selatan berhasil menggagalkan peredaran 20 kilogram sabu, menunjukkan efektivitas kerja sama antar-lembaga dalam memerangi narkoba.
Menyadari bahwa penanganan narkotika bukan hanya tanggung jawab satu pihak, Tri menekankan pentingnya kolaborasi dengan semua stakeholder, termasuk masyarakat umum, tokoh agama, dan pemerintah setempat. Edukasi dan sosialisasi menjadi kunci utama untuk membangun kesadaran akan bahaya narkoba dan pentingnya menolaknya sejak dini.
Dalam konteks peringatan HANI 2024, tema “Masyarakat Bergerak, Melawan Narkoba Mewujudkan Indonesia Bersinar” diangkat sebagai panggilan untuk bergerak bersama-sama. Tri mengapresiasi kontribusi semua pihak, termasuk Pemda, TNI, dan Polri, dalam mendukung upaya P4GN. Dengan dukungan yang kuat dari seluruh komponen masyarakat, ia optimis bahwa peredaran narkoba dapat ditekan secara signifikan.
Tri juga menyoroti perlunya mengurangi demand (permintaan) dan supply (penyediaan) narkoba secara bersamaan. Sementara upaya menekan supply ditargetkan kepada para bandar, penurunan demand dapat dicapai melalui program rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat.
Pada akhir pembicaraannya, Tri menegaskan harapannya agar masyarakat Sumatera Selatan tidak terperdaya oleh rayuan para bandar narkoba. Dengan bersatu dan membangun ketahanan bersama, ia yakin bahwa peredaran narkoba dapat dihentikan dan Indonesia akan menjadi negara yang lebih aman dari ancaman ini.
Peringatan HANI 2024 bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi panggilan nyata untuk bertindak. Melalui kerja keras, kolaborasi lintas sektor, dan kesadaran masyarakat, Sumatera Selatan bertekad untuk menegakkan supremasi hukum dan melindungi generasi muda dari ancaman narkoba. Dengan semua pihak bergandengan tangan, visi Indonesia bersinar tanpa narkoba dapat segera terwujud.
Kepada awak media, Jum’at (28/6)
Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, menyikapi tema peringatan HANI, dimana dengan tema ini diharapkan menjadi komitmen bersama warga Indonesia untuk bergerak.
“Mari bersama kita melakukan aksi nyata dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba, demi terwujudnya Indonesia yang bersih dari narkoba,”ajaknya.(Manda)













