Cakupan Layanan Air Bersih Baru 20 Persen, Perumda Tirta Betuah Banyuasin Butuh Investasi Rp 500 Miliar

Direktur Utama Perumda Tirta Betuah Banyuasin Hendra Gunawan (foto : yns)

GoSumsel – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Betuah Kabupaten Banyuasin mengakui cakupan pelayanan air bersih kepada masyarakat masih belum maksimal. Hingga saat ini, jumlah pelanggan aktif baru mencapai sekitar 30.500 sambungan atau setara 20 persen dari total potensi pelanggan yang ada di wilayah tersebut.

Direktur Utama Perumda Tirta Betuah Banyuasin Hendra Gunawan, menyebutkan rendahnya tingkat pelayanan disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya keterbatasan anggaran, luas wilayah Banyuasin yang cukup ekstrem, serta sulitnya memperoleh sumber air baku yang memadai.

“Kondisi geografis Banyuasin sangat luas dan antarwilayah berjauhan. Ditambah lagi, ketersediaan air baku menjadi tantangan tersendiri, sementara dukungan dana masih terbatas,” ujar Hendra saat ditemui wartawan, Senin (9/2/2026).

Ia menjelaskan, untuk meningkatkan cakupan layanan hingga sekitar 50 persen dari total potensi pelanggan, Perumda Tirta Betuah membutuhkan investasi besar, dengan estimasi dana mencapai Rp 500 miliar. Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan jaringan pipa, instalasi pengolahan air, serta peningkatan kapasitas distribusi.

“Kalau target pelayanan dinaikkan menjadi 50 persen, kebutuhan investasinya memang sangat besar, sekitar Rp 500 miliar. Karena itu kami berharap adanya investor yang bersedia bekerja sama,” jelasnya.

Saat ini, Perumda Tirta Betuah membuka peluang bagi investor strategis untuk masuk melalui skema penyertaan saham. Langkah ini dinilai penting guna mempercepat pemerataan pelayanan air bersih di seluruh wilayah Banyuasin.

“Kami sangat terbuka. Kehadiran investor akan sangat membantu percepatan pengembangan layanan air bersih bagi masyarakat,” tambah Hendra.

Di sisi lain, ia juga mengungkapkan bahwa distribusi air bersih di beberapa wilayah masih belum stabil. Bahkan, terdapat daerah yang hanya menerima aliran air satu hingga dua kali dalam sepekan akibat keterbatasan kapasitas penampungan dan distribusi.

“Masih ada daerah yang aliran airnya hanya satu minggu dua kali. Bahkan kantor kami sendiri di Pangkalan Balai juga mengalami kondisi serupa,” ungkapnya.

Meski demikian, Hendra menyebutkan bahwa sejumlah wilayah lain sudah mulai menikmati pasokan air bersih setiap hari. Namun, pemerataan layanan masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan secara bertahap.

Dari sisi tarif, Perumda Tirta Betuah juga menghadapi tantangan. Harga jual air bersih saat ini dinilai belum menutup biaya operasional. Setiap satu meter kubik air yang dijual masih menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

“Saat ini tarif sekitar Rp 4.500 per meter kubik, padahal agar tidak merugi, idealnya berada di angka Rp 5.600 per meter kubik,” katanya.

Walau menghadapi berbagai keterbatasan, permintaan layanan air bersih terus meningkat, khususnya dari kawasan industri dan perumahan. Beberapa wilayah strategis seperti kawasan industri Gasing dan area perumahan baru telah menyampaikan harapan agar jaringan di Perumda Tirta Betuah segera masuk.

“Minat masyarakat cukup tinggi, terutama dari kawasan industri dan perumahan. Namun kembali lagi, kendalanya masih pada biaya dan investasi,” tutup Hendra.

Perumda Tirta Betuah Banyuasin berharap dukungan investor serta sinergi berbagai pihak dapat mendorong peningkatan layanan air bersih secara bertahap demi memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Banyuasin.(yns)