GoSumsel – Tradisi Midang, untuk tahun ini menurut Kepala Bidang (Kabid) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ogan Komering Ilir (Disbudpar OKI) Marula Kurniawan Siregar belum bisa dilakukan seperti kebiasaan tahun sebelumnya.
Hal tersebut terang Marula, dikarenakan saat ini masih dalam pencegahan penyebaran Covid-19, serta mencegah munculnya klaster baru penyebaran Covid-19.
“Takutnya, kita menyalahi kebijakan pemerintah daerah yang berkomitmen untuk menghilangkan Covid-19 di wilayah Bumi Bende Seguguk ini. jikalau mau kita adakanMidang, akan kita rapatkan, dahulu” ungkapnya, Rabu (13/4).
Ia menambahkan, pihak-pihak yang akan melakukan rapat bersama mereka terkait prihal itu seperti Satgas Covid-19 (BPBD, Dinas Kesehatan), lalu Polres OKI, Sat Pol PP, Dishub, dan kelurahan-kelurahan se-Kecamatan Kayuagung.
“Rencananya rapat akan dilakukan pada pecan depan, karena saat ini Pak Kadin juga masih sibuk. Dan juga nanti akan dikirimkan ke kelurahan-kelurahan, supaya tidak ada kesalahan dari pembina adat. Makanya pembina adat juga kami libatkan, serta SK-nya ditandatangani bupati,” ujarnya.
Dikatakannya lagi, nanti juga keputusannya dari Polres dahulu, ada izin atau tidak. Karena dalam pelaksanaan midang ini mereka tidak bisa menahan atau membatasi banyak orang untuk melihat. Kecuali kalau seperti festival yang digelar dalam ruangan, maka bisa untuk menjaga prokes.
“Tapi midang inikan dilaksanakan di jalanan, sehingga tidak mungkin penontonnya harus pakai jarak. Oleh karena itu untuk lebih jelas terkait penerapannya nanti tergantung Polres, karena hal itu mereka yang mengurusnya,” tutur dia.
Apa Itu Tradisi Midang
Lebih lanjut jelasnya, Midang merupakan warisan budaya tak benda (WBTB) yang sudah ada sertifikat dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sehingga menjadi salah satu budaya di OKI yang telah diakui secara nasional.
“Kegiatan midang biasanya digelar pada hari raya Idul Fitri, dimana dilakukan pada hari ketiga atau keempat. Tujuannya ialah untuk menjaga kelestariannya. Oleh karena itu, mudah-mudahan pandemi ini bisa segera berakhir atau menghilang dari muka bumi, sehingga semuanya dapat kembali berjalan normal,” harapnya.
Lebih jauh kata dia, midang adalah tradisi yang sudah ada pada abad ke-17 silam. Dimana berawal dari adanya persyaratan keluarga perempuan dalam menikahkan putri-putri mereka kepada keluarga laki-laki. Seperti menyediakan semacam kereta hias dibentuk menyerupai naga yang disebut Juli.(Juanda)













