GoSumsel – Delapan warga binaan dari Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang sukses mencuri perhatian pengunjung dalam gelaran Palembang Fashion Carnival yang berlangsung di Lapangan Benteng Kuto Besak (BKB). Mereka tampil percaya diri di atas catwalk dengan mengenakan busana hasil rancangan dan jahitan mereka sendiri.
Koleksi yang ditampilkan mengusung perpaduan kain jumputan khas Palembang dengan bahan denim bergaya kasual. Sentuhan tersebut menghadirkan desain yang modern, elegan, sekaligus tetap mempertahankan nilai budaya lokal sehingga menarik perhatian berbagai kalangan.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Desi Andriyani, menjelaskan bahwa keikutsertaan warga binaan dalam ajang tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang bertujuan mengembangkan keterampilan sekaligus membangun rasa percaya diri.
Menurutnya, penggunaan kain jumputan yang dipadukan dengan denim menjadi upaya memperkenalkan kain tradisional dalam tampilan yang lebih segar dan sesuai dengan tren fesyen masa kini, khususnya bagi generasi muda.
“Persiapan dilakukan selama kurang lebih satu mtinggu. Seluruh peserta terlibat langsung dalam proses pembuatan busana, mulai dari membuat pola, menjahit, menyelesaikan detail pakaian hingga menjalani latihan berjalan di atas catwalk. Pihak lapas juga melakukan seleksi untuk menentukan warga binaan yang akan tampil berdasarkan minat, kemampuan, dan kesiapan mereka,”ujarnya, Jum’at (26/6/2026) malam
Tak hanya dipamerkan dalam ajang tersebut, hasil karya warga binaan juga dipasarkan kepada masyarakat melalui platform Si Cantik serta Galeri Lapas Perempuan Palembang. Beragam koleksi busana ditawarkan dengan kisaran harga Rp300 ribu hingga Rp700 ribu, menyesuaikan desain, tingkat kesulitan, dan detail pengerjaannya.
Program pembinaan di Lapas Perempuan Palembang tidak hanya berfokus pada pembentukan karakter, tetapi juga memberikan pelatihan keterampilan seperti tata busana, tata rias, kerajinan tangan, hingga seni pertunjukan. Setiap warga binaan terlebih dahulu mengikuti asesmen untuk mengetahui bakat dan minat sehingga pelatihan yang diberikan dapat disesuaikan dengan potensi masing-masing.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan, Yulius Sahruzah, memberikan apresiasi atas penampilan para warga binaan. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas mampu melahirkan karya berkualitas sekaligus membangun kepercayaan diri warga binaan.
Menurutnya, kesempatan tampil di hadapan masyarakat juga menjadi langkah positif untuk mengurangi stigma terhadap warga binaan, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke tengah masyarakat.
Melalui Palembang Fashion Carnival, kreativitas para warga binaan tidak hanya mendapat ruang untuk dikenal lebih luas, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan program pembinaan yang mendorong lahirnya individu-individu produktif, kreatif, dan siap menata masa depan setelah menyelesaikan masa pembinaan.(yns)












