Jarak Pandang Lebih dari 1 Mil, KSOP : Kabut Asap Tidak Ganggu Arus Lalu Lintas Pelayaran

Plt Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Palembang Khairul Anwar (foto : gS3)

GoSumsel – Meski kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kian tebal menyelimuti kota Palembang jarak pandang di perairan Sungai Musi masih dalam kategori aman untuk pelayaran.

Hal ini disampaikan Plt Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Palembang Khairul Anwar kepada wartawan Jumat (2/10/2026).

Khairul Anwar mengatakan arus lalu lintas pelayaran di perairan Sungai Musi masih berjalan normal sampai hari ini meski kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah di Sumsel masih menyelimuti kota Palembang.

“Tapi kami selalu mengeluarkan Notice To Mariners atau peringatan, pemberitahuan terhadap pengguna jasa, operator kapal di Palembang terkait keselamatan berlayar,”kata Khairul Anwar didampingi Kawilker Tanjung Api api Capt Rachmad Syahid.

Dikatakan Khairul, KSOP Kelas 1 Palembang hampir setiap minggu mengeluarkan Notice To Mariners sejak adanya kabut asap yang mengganggu jarak pandang pelayaran.

“Kami mengeluarkan Notice To Mariners pemberitahuan kepada pengguna jasa pelayaran. Sejak ada kabut asap kemarin adalah yang terparah dari perhitungan jarak pandang kurang dari satu mill dan alhamdulillah hari ini sudah berkurang kabutnya,”tuturnya.

Dalam Notice To Mariners yang dikeluarkan kantor KSOP Kelas 1 Palembang berisi 7 peringatan dan pemberitahuan kepada seluruh nakhoda yang akan berlayar selama ada kabut asap.

Pertama berlayar dengan kecepatan aman, kedua menyalakan lampu navigasi, membunyikan isyarat bunyi, ketiga mengaktifkan AIS (Automatic Identification System) dan harus selalu mengaktifkan alat alat navigasi lainnya.

Yang keempat memasang sosok benda, membunyikan isyarat bunyi dan penerangan sesuai dengan peraturan internasional pencegahan tubrukan di laut.

Yang kelima meningkatkan pelaksanaan pengamatan disekeliling, yang keenam kapal yang berlabuh untuk menyalakan penerangan dek, yang ketujuh menunda keberangkatan kapal atau pelayaran apabila kondisi kabut atau asap tidak memungkinkan untuk berlayar.

“Kami juga selalu berkoordinasi dengan pihak navigasi, BTS dan pandu yang berada diambang luar juga harus selalu berkoordinasi dengan kapal kapal yang melintas untuk lebih berhati hati,”tambahnya.

Sejauh ini Khairul Anwar mengungkapkan selama kondisi berkabut tidak ada penundaan kapal yang akan berlayar karena jarak pandang masih aman.

“Kalau nantinya kabut asap semakin parah, kami akan berlakukan ganjil genap artinya sehari masuk sehari keluar atau berlayar tapi dari hasil koordinasi kami dengan pandu, BTS dan pengamatan visual jarak pandang masih bisa untuk dilayari saat ini jarak pandang lebih dari satu mil,”tandasnya.(gS3)