GoSumsel – Tahun 2020 diawali dengan merebaknya virus novel corona, sampai artikel ini saya tulis, 40.000 orang sudah terinfeksi, lebih dari 900 orang di antaranya meninggal di provinsi Hubei, kota Wuhan, Cina. Virus yang memiliki nama resmi 2019 nCoV ini juga sudah meluas ke 25 negara di luar Tiongkok, menginfeksi 250 orang dan 2 di antaranya meninggal dunia. Bagaimana dengan Indonesia, apakah sudah waktunya untuk kita panik?
Virus novel corona merupakan virus yang berasal dari famili coronaviridae, virus pendahulu dari keluarga ini sudah kita kenal di tahun 2002-2003 sebagai biang kerok dari SARS, dan pada tahun 2012 menyebabkan MERS di Timur Tengah.
Bukan merupakan hal yang aneh bahwa sebuah virus dari waktu ke waktu akan mengalami mutasi, yakni perubahan identitas genetik, sehingga ketika muncul ke permukaan menyebabkan bentuk infeksi baru yang mematikan dan tidak bisa di antisipasi dengan imunisasi manapun.
Sebagaimana kuman, jamur, dan semua mikroorganisme lain, virus pun memiliki inang, virus novel Corona diduga bermutasi melalui kelelawar. Kata novel di depan corona memiliki arti baru, karena virus ini baru, masih banyak yang belum kita ketahui tentang virus ini.
Keparahan sebuah wabah dinilai melalui tolak ukur yang disebut dengan case fatality rate, yakni jumlah kematian yang ditimbulkan oleh sebuah penyakit yang menyerang sekumpulan orang dalam kurun waktu tertentu. Sebagai gambaran, SARS yang merebak di tahun 2002-2003 memiliki angka case fatality rate sebesar 10 %, artinya 1 dari 10 orang yang terjangkit virus ini mengalami kematian, sedangkan pada outbreak MERS di tahun 2012 memiliki angka CFR yang lebih tinggi, yakni 35 %. Bagaimana dengan 2019 nCoV? Rupanya kematian yang ditimbulkan oleh virus ini jauh lebih kecil dibandingkan kedua pendahulunya, yakni 3 %. Artinya 3 dari 100 orang yang terjangkit mengalami kematian. Dan dari semua kasus kematian didapatkan pola yang serupa pada korban jiwanya, yaitu lansia yang berusia di atas 60 tahun dan sebelumnya sudah mengidap penyakit penyerta lain seperti diabetes, gagal jantung kronis, gagal ginjal kronis, dan sebagainya.
Berdasarkan data di atas ini, saya bisa mengatakan bahwa kepanikan yang terjadi hari-hari terakhir ini sedikit banyak diamplifikasi oleh maraknya penggunaan sosial media.
Kemenkes sudah melakukan klarifikasi terhadap puluhan berita hoax terkait dengan penyebaran virus novel corona ini. Daripada panik, mari kita berjaga dengan melakukan pencegahan seperti : cuci tangan 6 langkah dengan sabun, makan makanan bergizi seimbang, olahraga dan tidur yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh, gunakan masker jika sedang batuk atau pilek, juga saat berada di dekat orang sakit.
Perlu diingat juga virus ini tidak menyebar melalui barang-barang yang diimpor dari Cina, jadi tidak perlu kuatir, bagi anda yang senang belanja online.
Jika anda mengalami flu disertai demam, batuk pilek, dan sesak nafas, segera periksakan diri Anda ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kementrian kesehatan sudah mempersiapkan standar prosedur operasional jika ada kasus yang terduga merupakan infeksi corona, baik itu di bandara, stasiun, dan terutama di rumah-rumah sakit.
Mengenai alat pendeteksi corona yang rumor nya tidak dimiliki Indonesia pun tidak benar. Kita punya alat untuk deteksi virus ini, yaitu melalui alat diagnostik yang disebut dengan PCR ( polymerase chain reaction) Akhir kata, mari kita terapkan apa yang dipesankan oleh dr Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan RI, tetap tenang dan berdoa. Salam sehat !
Penulis : dr. Marko Vidor (Direktur Rumkit ST Antonio)





